Jumat, 18 Agustus 2017

#StoptanyaKapan-WP Story

Cerita ini menarik dan penuh rasa sehingga saya ingin share ke para ladies pembaca setia Vemale.com



WP-Malang


Selama ini pertanyaan "Kapan?" itu selalu orang lain tujukan untuk mendapatkan kepuasaan jawaban yang menurut saya memojokkan seseorang. Mereka bahkan tidak mengerti jika pertanyaan itu datang dari diri mereka sendiri. Saya adalah salah seorang dari milliaran orang di bumi ini yang selalu mengungkapkan kata "Kapan?", tidak hanya untuk orang lain tapi juga untuk Sang Maha Khalik. Pertanyaan yang selama ini selalu saya tanyakan karena begitu banyak hal yang sangat tidak mudah untuk saya pahami konsepnya.

Di awal pernikahan saya merasa menjadi seorang wanita beruntung, apalagi ketika saya diberikan karunia dua orang anak yang cantik dan ganteng. Pada saat itu saya dan suami memiliki usaha sendiri yaitu usaha rumah makan. Namanya usaha pasti ada naik turunnya. Usaha kami berjalan 6 thn, namun karena suatu hal usaha kami terpaksa kami tutup karena sudah tidak mampu utnk menggaji karyawan. Kondisi ini mulai menimbulkan percikan api dalam rumah tangga saya. Saya harus berusaha mensupport keuangan keluarga, karena suami saya tidak bekerja. Dibilang suami saya tidak usaha cari kerja ya ga juga sih sebenernya, hanya saja dia tidak pernah mau berusaha dari bawah, selalu mencari posisi empuk tanpa mau merintis dari bawah. Saya sudah pernah sampaikan, kalaupun dia harus berjualan telur dipinggir jalan, jadi supir atau kuli sekalipun saya tidak malu atau keberatan asal dia berusaha memenuhi tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga. Saya berusaha mencari penghasilan lain dengan menjual kue basah dengan cara menitipkan ke toko-toko kue di pasar. Saya yang tidak punya background untuk membuat kue berusaha mencari tahu dari internet resep-resep kue yang sekiranya banyak orderan. Sebagai promosi saya memberikan tester ke tetangga dengan cuma-cuma. Berawal dari pesanan kue yang hanya 25 biji, lambat laun bertambah menjadi 50,100,200,300 bahkan saya pernah menerinma pesanan kue sebanyak 800 dalam sehari dan saya kerjakan sendiri tanpa asisten. Usaha saya mulai menanjak dengan semakin bertambahnya pesanan dari hari ke hari. Untuk itu saya memutuskan mempekerjakan asisten sebanyak 2 orang. Orderan semakin banyak dari hari ke hari dan jenis kue yang saya terima juga semakin bervariasi. Tidak hanya orderan kue basah , saya menerima pesanan cake, cake ultah, nasi kotak, nasi tumpeng dan catering.

Sampai akhirnya anak-anak saya mulai mencari perhatian saya, karena saya terus bekerja menerima pesanan kue untuk kebutuhan hidup kami sehari-hari dan tagihan-tagihan kami. Sampai pada suatu hari terjadi pertengkaran hebat antara saya dan suami sampai terjadi KDRT, perut saya ditendang oleh suami saya, sehingga saya merasakan sakit yang amat pada bagian perut saya, paha dan kaki saya pun biru lebam akibat pertengkaran tersebut. Ketika suami saya membawa pergi anak saya, saya yang gelap mata memutuskan untuk meninggalkan rumah karena sudah tidak tahan. Saya hanya membawa baju dan ijazah saya dan menacari kos-kosan untuk tempat tinggal. Pada waktu itu keuangan saya menipis dan saya harus memutar otak untuk dapat memenuhi kehidupan saya kedepannya. Dan yang pertama terlintas saya harus mencari pekerjaan. Entah kenapa saya memutuskan untuk pergi ke Dinas Penyalur Tenaga Kerja. Saya bersyukur waktu itu langsung diterima kerja sebagai baby sitter pengganti selama 1 minggu di Surabaya, dengan gaji yang bisa saya gunakan untuk keperluan hidup. Keluarga tempat saya bekerja adalah keluarga Polisi memiliki dua orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Saya diminta untuk menjaga anaknya yang berusia 3 tahun, bertubuh besar dan sehat. Saya tidur di sebuah ruangan sudah berisi barang dan kardus-kardus, ruangan ini tepatnya disebut gudang karena tidak jarang saya melihat tikus-tikus sebesar kepalan tangan saya seliweran. Dikondisi ini saya harus mengenyampingkan ego, amarah dan rasa kesal saya. Saya bersyukur orangtua saya memberikan kesempatan untuk mengenyam pendidikan sampai S2. Dan pada kondisi saat itu yang saya pikirkan hanya bagaimana saya bisa memenuhi hidup saya. Pekerjaan saya tidak hanya menjaga anak-anaknya, saya juga membantu pekerjaan rumah tangga seperti masak, cuci baju, cuci piring, menyapu , dsb. Sampai akhirnya pekerjaan itu selesai dan saya kembali ke Malang.

Saya terus menerus memikirkan rumah tangga dan anak-anak saya. Dalam kesendirian dan jatuh saya bertanya sama Tuhan "Kapan semua ini akan berakhir?". Sampai pada akhirnya sebuah keputusan berat dan terbesar dalam hidup harus saya ambil yaitu Perceraian. Memang sudah tidak ada kecocokkan antara saya dan suami, bukan hanya dengan suami tetapi juga dengan mertua. Kami sangat berbeda pendapat, sudah tidak bisa saling memahami. Saya yakin dengan keputusan saya, saya tidak mau menjalani karena terpaksa. Dan saya tau apabila saya paksakan seperti apa jadinya. Pada waktu itu orang tua kami sama-sama memiliki jabatan yang cukup tinggi, sehingga mereka takut akan omongan orang dilingkungan sekitarnya, namun saya sudah tidak bisa mempertahankan kondisi rumah tangga saya. Keluarga saya sangat kaget terutama ibu saya shock karena mereka tidak pernah tahu kondisi rumah tangga saya yang sudah sering bertengkar. Cobaan hidup saya tidak terhenti saja disini.

Berkali kali saya marah dan protes dengan Tuhan, walaupun saya sadar semua yang sudah terjadi ini sudah takdir Tuhan. Saya marah karena saya merasa, "Kenapa hidup ini tidak adil?". Contohnya orangtua saya adalah orangtua yang sangat sangat lurus. Mama saya adalah seorang guru dan Papa saya seorang karyawan swasta di salah satu perusahaan mineral di Kaltim. Mama saya sangat rajin dan telaten dalam mengurus keluarganya, contohnya tepat setengah 5 subuh dia menyapu pekarangan rumah, dia solat subuh, dan setelah itu dia akan menyiapkan sarapan kami semua lengkap dengan segelas teh  dan susu hangat. Setelah kami semua berangkat sekolahdia menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Setelah selesai dia akan mulai menyiapkan makan siang, semua dia olah sendiri dengan bahan yang baru dia beli dari tukang sayur yang lewat depan rumah.Tepat jam 12 papa pulang kerja, makanan sudah siap di meja lengkap dengan sayur, ikan atau ayam,tahu tempe sambel dan selalu mama yang mengamblkan nasi untuk papa. Setiap papa pulang kantor pada sore hari mama sudan menyediakan snack atau cemilan dengans egelas the hangat untuk menyambut papa pulang dari kantor. Dari kecil sampai sekarang kami ditanamkan untuk pulang ke rumah sebelum magrib dan shalat berjamaah bersama di rumah kemudian dilanjutkan dengan makan malam bersama sambil ngobrol aktivitas keseharian kami semua. Begitu sederhana dan bahagianya konsep keluarga yang ditanamkan papa dan mama saya. Papa merupakan karyawan yang memiliki posisi penting dimana papa harus menyeleksi kontraktor yang akan bekerjasama dengan perusahaan. Tidak jarang para kontraktor dating ke rumah untuk menyogok papa dengan segepok uang sebagai pelicin, namun papa tetap menolak semuanya secara halus. Papa termasuk karyawan yang baik dan amanah, sehingga diberikan rezeki menunaikan ibadah Haji dibiayai oleh perusahaannya.


Namun kembali saya marah dengan Tuhan karena orangtua saya yang hidupnya baik diberikan cobaan bertubi-tubi. Ketika papa pensiun, papa ditipu orang, sehingga uang pensiun papa saya habis. Papa saya mulai terpukul tapi tidak ada yang bisa dilakukan karena orang yang menipu sudah tidak tahu lari kemana. Mama saya sudah tidak bisa berkata apa-apa dan mereka hanya pasrah dan berdzikir menganggap itu hanya cobaan. Kondisi ini berdampak ke perekonomian rumah tangga, mama papa mulai kekurangan untuk kebutuhan sehari-hari karena hanya mengandalkan uang pensiun yang tidak seberapa, dibanding dengan biaya hidup yang sangat tinggi. Mama saya kehilangan ibunya yang sangat disayangi tanpa sempat bertemu. Saya kehilangan kakak perempuan nomor dua, setelah sakit sekian lama dan mama saya yang mengurus mulai awal sakit hingga menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit. Kondisi itu mulai membuat papa dan mama semakin terpukul. Kami kembali kehilangan kakak perempuan yang ketiga, yang juga karena sakit. Beliau hanya dirawat dirumah karena kami sendiri tidak memiliki biaya untuk perawatan dirumah sakit. Beliau hidup sebatang kara karena beliau memang belum pernah menikah hingga akhir hidupnya. Mama saya yang memandikan, menyuapi merawat mulai ujung kaki hingga ujung rambut tanpa mengeluh sedikitpun, hingga beliau meninggal. Dalam kondisi ini saya bertanya kepada Tuhan "Kapan Papa dan Mama saya diberikan kebahagiaan??", saya tidak sanggup melihat mereka harus menanggung semua beban itu. Namun cobaan itu kembali lagi menghampiri keluarga kami cobaan terberat datang ketika kakak laki-laki saya meninggal karena sakit jantung, kakak saya meninggalkan seoarang istri yang sedang hamil 8 bulan. Dan yang lebih menyakitkan mama saya tidak sempat melihat jenazahnya untuk terakhir kali, karena sudah kehabisan pesawat. Beliau hanya menangisi makamnya menyesali mengapa tidak sempat bertemu untuk terakhir kali. Anak dan istri kakak saya sekarang tinggal bersama orangtua kami di Kalimantan. Mama mulai mengalami stress, tidak bisa tidur jadi harus selalu minum obat tidur, badannya mulai kurus karena tidak mau makan. Mama mulai sering sakit. Kondisi mama semakin bertambah buruk karena tahu mengenai perceraian saya. Belum lagi papa yang difitnah korupsi membawa lari uang masjid, papa saya mengisi waktu luang dengan menjadi takmir masjid dekat rumah. Walapun tuduhan itu tidak terbukti. Papa terkena stroke, dan mama mengalami patah tulang selangkangannya hingga keduanya harus dirawat dirumah sakit bersamaan dalam satu ruangan.


Tuhan.."Kapan kami dapat mencicipi Bahagia itu?" Saya hanya tidak habis pikir kenapa orangtua saya yang begitu lurus taat beragama harus diberi cobaan yang bertubi-tubi ?. Mama saya seorang istri yang setia taat kepada suami, tapi kenapa mama tidak pernah saya terlihat bahagia? dan saya pribadi juga marah serta protes dengan Tuhan, saya yang berusaha hidup sederhana, hanya mendambakan hidup sederhana tidak bisa merasakan bahagia berumah tangga. Saya tidak bercita-cita kaya, saya hanya ingin memiliki pasangan saya bekerja dan memiliki penghasilan yang halal. Saya akan menyambutnya dengan hangat ketika dia pulang dari kerja, melayani sudah surga buat saya. Tapi apa yang saya dapat? laki-laki yang hanya memandang sebelah mata, hanya memiliki keinginan tertentu kepada seorang wanita.

 "Kapan kami dapat kesempatan memiliki bahagia kami?"

Saya hanya ingin hidup lebih baik dari sebelumnya, saya ingin berumah tangga yang sebenarnya. Dengan kata lain saya memiliki suami yang bekerja memiliki penghasilan serta mendukung cita-cita saya memiliki usaha sendiri dibidang kuliner sesuai passion saya. Bisa membahagiakan dan mencukupi kebutuhan kedua orang tua saya, anak-anak saya, mengurus suami saya. Hidup sederhana tapi bahagia. Sampai akhirnya saya akan berhenti bertanya "Kapan?" kepada Sang Khalik.

WP-Story for f3_borito.



Kamis, 17 Agustus 2017

Cerita Pagi



 Rajutan kisah kemaren bersamanya indah dan bahagia.
 Genggaman tangannya, tawanya yang lepas dan senyum cerianya.
 Cerita pagi ini kembali merewind sebuah asa yang tak ada rasa.
 Dia dan cinta ini adalah sebuah kutipan hidup untuk selamanya.
             
                Ada rasa sedih mendalam pagi ini.
                Seperti luka sayatan sembilu dihati.
                Tidak bisa aku teriak menyalahkan sunyi.
                Menyeringai menahan sesak hati ini.


Dia berhasil membuat sebuah pahatan cinta dihatiku
Dia berhasil membuat gemuruh di jantungku.
Dia berhasil membuat cemburu diriku.
Dia berhasil mengembalikan makna Cinta kepadaku.


               Cerita pagi ini membuatku tersadar dari mimpi.
               Mimpi untuk bisa memberikan rasa cinta ini
               Cinta ku relakan dia untuk bahagia dan dicintai.
               Cinta ini akan ku simpan dalam diri sampai mati.




Borito-18.08.17  for you "pw"
   



Minggu, 23 Juli 2017

Sapaan Hati Pagi

Pagi hari ini perasaanku tidak beraturan seperti lukisan abstrak. Ada rasa rindu yang tak tertahan kepada kamu padahal baru 6 hari kamu libur. Hati ngoceh ngak karuan kalau WA aku hanya kamu read aja. Tapi aku harus menjaga rasa aku kepada kamu, dan sepertinya aku harus mulai membuangnya karena aku tahu kamu tidak ada rasa kepadaku. Tapi tetap aja akan ku sampaikan kepadamu dalam waktu dan masa yang tepat.


Aku terpadaya akan rasa suka ku sendiri. Berharap dia akan membalas rasaku. Itu sebabnya aku tidak suka rasanya "Jatuh Cinta", indah dirasa namun sulit untuk dikecap. Rasa ini dating selalu pda orang yang tidak tepat, jika orangnya tepat masanya yang tidak tepat. Lagi..dan lagi aku kecewa, sedih, dan merasa hampa kembali. Malas rasanya menyapa hati ini dengan Cinta, karena ketika aku mencintai seseorang pada akhirnya akan ada sedih, kecewa, dan sakit. Tapi itulah namanya juga manusia ya..tidak mungkin hidup itu mulus seperti keinginan kita.


Sapaan pagi yang cerah-Lembayung senja dalam hati.


170724-09.59 Wib @Kantor

Selasa, 04 Juli 2017

Segenggam Rasa Untuk Asa

Wajah dan paras ayu dirinya membius asaku. Isaratkan hati menimbulkan rasa.Wahana asa yang mengenyampingkan logika. Inikah rasanya "Jatuh Cinta" atau dejavu belaka. Etalase hati berisi rasa suka. Kesempurnaan segenggam rasa untuk asa. Picisan yang tak lagi muda merenda sebuah rasa. Andai bisa aku bisikkan pada malam ini. Tentang rasa sayang dalam rajutan asa ini. Yang tak kuasa aku genggam dalam rasa ini. Absurb, aneh dan terpedaya oleh rasa ini. Salah dan angkara terkuak pada rasa. Imbalan tak setimpal dari sebuah tawa suka. Hidupkan asa dalam segenggam rasa tak bersuara.

Kamu AL

Aku kembali lagi mengenang mu AL ya..semua tentang mu.Perhatian mu, kasih sayang mu selalu buat ku terkenang akan dirimu AL.Rasa yang kamu minta dibuang dan dikubur, namun pelik rasa itu hadir AL.Ingat bulan April ulang tahun kamu, ingin rasanya kembali ke masa kebersamaan kita.
Aku dan kamu akan saling bercerita via telepon menunggu jam 00.00 WITA dan 00.00 WIB. Namun semua itu sirna akibat sikap dan ketidak jujuranku kepadamu. Impianku bisa bertatap langsung dengan mu hanya impian semu. Liku hati ku menunggu kesempatan dari mu AL. Andai bias bayang hadirmu nyata tak berdimensi. Naluri kasih dan cinta kita tak terajut kembali AL. Dalam hapusan asa aku pergi meninggalkanmu. AL sebuah nama terpatri dalam memori. 

Senin, 10 April 2017

MyLife MyChoice

Saya masih terniang akan sebuah lagu anak-anak yang dinyanyikan Agnez Mo dan Eza Yayang yang liriknya "Gantungkan cita-cita mu setinggi langit"  ketika sekolah semua harapan setiap siswa pasti ingin memiliki jalur pendidikan yang diminati kemudian melanjutkan kuliah dan bekerja. Realitanya tidak semua keinginan kita sesuai dengan kenyataan hidup yang kita terima.




Namaku Tina Lisa namun teman-temanku sering panggil aku Icha walau kadang banyak teman yang salah memangil namaku menjadi Tina Talisa :). Menjadi anak pertama dan seorang kakak menurutku bukan situasi yang mudah untuk di jalani. Pada waktu SMP aku tergabung disalah satu Grup Qasidah di desaku. Aku dan grup Qasidahku sering dipanggil untuk mengisi acara syukuran,khitanan, dan hari besar keagamaan. Aku mendapat penghasilan dari menyanyi Qasidah,walau tak besar namun cukup untuk jajan sehingga aku tidak perlu meminta kepada kedua orangtuaku. Aku masih ingat sebuah situasi yang sulit dimana aku harus pengorbankan cita-cita karena kondisi ekonomi orang tua setelah lulus SMA. Pada waktu sekolah aku termasuk murid berprestasi dalam bidang akademik. Disaat semua teman-teman mulai pembicarakan jurusan yang akan mereka ambil kuliah nanti, aku hanya bisa tersenyum dalam hati yang sedih karena aku tahu kondisi ekonomi keluargaku dan kedua orangtuaku tidak ingin memberikan harapan kepadaku. Aku yakin kedua orangtuaku sangat ingin memberikan pendidikan yang terbaik kepada kami anak-anaknya, hanya saja waktu itu krisis moneter terjadi di keluargaku sehingga aku sebagai anak tertua tidak ingin memaksakan kehendakku dan mengorbankan adik-adik ku. Pada waktu itu tekadku sudah bulat dan berkata kepada diriku :

"Aku akan melanjutkan pendidikanku dengan uang hasil kerjaku sendiri"

Aku hanya meminta kepada kedua orangtuaku untuk memberikan aku bekal keterampilan yang dapat aku pergunakan untuk melamar pekerjaan.Aku meminta kursus Komputer dan Bahasa Inggris di kota Padangsidempuan.Jarak tempat tinggalku ke kota Padangsidempuan sekitar satu jam perjalanan menggunakan transportasi umum. Banyak teman, guru dan sahabat yang menyayangkan kondisiku dan malah ada diantara mereka menduga bahwa aku akan segera dinikahkan. Saat itu semua omongan itu ku tepis dengan senyuman karena aku yakin Tuhan akan memberikan yang terbaik buat ku. Lulus dari kursus yang ku ambil aku menjadi pengangguran selama 1 tahun. Dalam masa itu rasa sedih dan kecewa menghampiri hariku, namun semua kembali aku singkirkan ketika aku melihat ayah ku yang bekerja siang malam dan mamak ku yang juga mendukung ekonomi keluarga dengan menerima jahitan di rumah. Tuhan selalu punya cara dalam memberikan rezeky kepada hambanya. Di dekat tempat tinggal ku sudah lama ku dengar sebuah PMA (Perusahaan Modal Asing) bidang pertambangan mineral logam emas dan perak. Tidak mudah untuk mendapat pekerjaan di perusahaan tersebut. Sampai akhirnya ada sebuah lowongan posisi Resepsionist untuk project tambang emas Martabe. Dengan bekal kursus yang menurutku sejalan dengan posisi tersebut aku beranikan untuk mengirimkan surat lamaran ke perusahaan tersebut. Ada 5 kandidat dari beberapa kota termasuk Padangsidempuan, namun memang posisi itu belum menjadi rezeky ku.Aku gagal setelah mengikuti 5 kali tahapan test.

Kedua orangtuaku mengerti akan keinginanku bekerja, hingga suatu hari seorang kerabat masih keluarga ku menginformasikan kepada orangtuaku ada lowongan pekerjaan untuk mengantikan posisinya di perusahaan perkebunan sawit bertempat di Pekanbaru. Aku pun sangat senang dan menerima pekerjaan itu dan segera aku pergi ke sana. Setelah 1 minggu mencoba pekerjaan itu aku menyerah karena memang bidang pekerjaan itu tidak sesuai dengan keterampilan yang aku miliki. Karena aku berprinsip bahwa "aku harus bekerja dengan hati dan pikiran yang nyaman". Dan Tuhan benar-benar mendengar do'aku. Selang 2 minggu sekembalinya aku dari Pekanbaru, sebuah tawaran dari perusahaan emas itu datang kepadaku. Mereka masih memiliki Surat Lamaranku yang dulu dan memanggilku untuk ikut tes wawancara posisi Admin di Departemen baru yaitu Mining Department. Diantara 5 kandidat aku adalah kandidat paling muda. Setelah lulus semua tahapan test sampai pada test wawancara dengan Manager Mining Department yaitu Mr. Ted Fowles. Dengan bekal kursus bahasa inggris yang ku pelajari, aku bisa melewati tahap test dengan Mr. Ted Fowles dan aku dinyatakan lulus. Sampai saat ini aku masih ingin meneruskan pendidikan ku, namun aku belum menemukan Universitas yang bisa disesuaikan dengan hari kerjaku.

 Tahun 2010 adalah awal karirku di perusahaan pertambangan emas Martabe. Tidak mudah dalam menjalani pekerjaan yang berinteraksi  dengan dominasi kaum adam, khususnya Mining Department. Mungkin bisa dikatakan aku adalah wanita satu-satunya di Departement Mining pada waktu itu, karena memang kaum hawa yang bekerja masih bisa dihitung dengan jari. Apakah pekerjaan berjalan mulus?? tidak semudah yang aku bayangkan. Perusahaan ini masih dalam tahap pembangunan waktu itu banyak pro-kontra dengan masyarakat akan kehadiran perusahaan ini. Belum lagi cibiran dari orang di luar yang beranggapan negative karena bekerja dengan dominasi kaum adam dan banyaknya rumor yang berkembang bahwa para wanita yang bekerja di perusahaan itu menjadi kupu-kupu untuk para pekerja laki-laki. Tapi aku tetap teguh dan yakin aku akan berkembang jika terus bekerja disini.
Budha Laser-Pattaya
Avenue of Stars-Hongkong
Aceh Tsunami Museum
Dan Alhamdulillah perusahaan ini berkembang dan menjadi salah satu pendongkrak perekonomian khususnya di daerahku. Semua tantangan, cibiran, dan omongan orang akan keputusan yang aku pilih perlahan sudah ku rasakan. Aku bisa membantu kedua orangtuaku dengan dukungan materi untuk sekolah adik-adik ku. Dan dari hasil bekerja selama 7 tahun aku menabung yang akhirnya bisa mewujudkan keinginanku travelling baik dalam negeri maupun ke luar negeri.  Cibiran, sindiran, dan omongan negative itu dapat ditepis dengan sebuah usaha dan kerja keras yang nyata. Mungkin saat ini masih banyak teman-teman ku yang lulus kuliah belum mendapat pekerjaan.



City of  Macau
Universal Studio-Singapore

Phi phi Island-Thailand







So..ladies hidup itu pilihan dan ketika kita sudah memilih kita harus meyakini karena pada saat kita memilih ada tangan Tuhan ikut mengaturnya.

-Tina Lisa-
written by F3_Borito.


Minggu, 29 Januari 2017

Maknai Penolakan

Kadang hati dan pikiran ini tidak dapat kompromi dengan sebuah penolakan.
Terkadang kita siap namun terkadang kita setengah hati dalam menerimanya.
Banyak asumsi pemikiran kita berkecamuk dengan segala cecar pertanyaan.
Ingin rasanya teriak agar hati ini lega menerima sebuah penolakan.
Namun suara hati tak terdengar hanya Allah SWT yang mendengar.


Jeritan sedih, luka dan amarah ini harus segera ku tetesi dengan obat sabar.
Terkadang penolakan ini menjadi hal terbaik buat mengelola diri kita.
Allah SWT tahu yang terbaik buat hamba-hambanya.
Allah SWT punya jalan dalam memberikan obat penawar untuk luka penolakan.
Akhirnya pelajaran yang baik dari Allah SWT adalah Sabar dan Tawakal.