Selasa, 22 November 2016

Prasangka

Kadang kita manusia hanya bisa melihat sekilas tanpa tahu kebenarannya. Hal itu terjadi kepadaku ya...ternyata benar kata mamak ku, "Kalau ada makanan biasa aja ambilnya, nanti piker orang kita rakus" itu benar banget dan hal itu aku rasakan hari ini. Ada rekan kantor dating membawa makanan mungkin karena aku ambil jatah 2, trus dating lagi ke meja makanan tersebut teman aku piker aku mau ambil lagi...padahal jatah yang 1 lagi aku ambil buat kakak rekan kerjaku. Aku cuma nerimo ajalah..lagian Allah SWT tahu tanpa aku harus marah-marah dengan omongan temanku itu karena aku tahu watak dia itu masih polos, namun dia diberkahi rahmat oleh Allah SWT mendapatkan pekerjaan dan cepat memiliki suami. Tapi bagiku dia seperti adik jadi cara dia itu mengingatkan sama adek ku Rizky. Alhamdulillah ya..Allah ya Rahman terimakasih atas perubahan diri dan sikap hamba..terimakasih. :)

Sabtu, 19 November 2016

#Lomba Hari Ayah 2016-Ayah Aku Rindu#

Ayah Ku Kebanggaanku
Mungkin orang akan bilang dia tidak tampan, tapi bagiku dia sangat tampan.
Orangnya supel, humble, dan sangat penyayang kepda keluarga.
Namanya menyimpulkan sebuah do'a "Kemenangan" untuk hidup dan dirinya.
Andai orang bertanya siapa lelaki itu?dengan bangga aku menjawab dia AYAH-ku
Namun ayah tak lagi bersama kami, dia sudah pergi pada 17/11/2013
Gemuruh rasa pilu kehilangan itu masih terasa jika mengingat tanggal 17 November.
Rasanya sulit hati berdamai dengan keadaan jika meningat hari ini.
Ibarat sakit yang sangat berat dan obat terbaik untuk sembuh adalah Empedu.
Tegar ya...kami coba tegar untuk menghadapi takdir ilahi.
Orang-orang hanya bisa melihat kami sekarang secara individu.
Namun mereka tidak tahu lubuk hati kami yang sangat dalam kehilangan Ayah kami tercinta.
Gemuruh rasa pilu kehilangan itu masih terasa jika mengingat tanggal 17 November.


Kata-kata diatas merupakan untaian rasa yang aku rasakan hari ini, ingin aku berpaling untuk tidak menulis apapun tentang ayahku, namun semakin aku berpaling semakin sakit aku rasa. Jika ladies anak perantau baik itu bekerja dan kuliah pasti kadang terlupa untuk menelepon orang tua, apalagi ketika sedang dimabuk asmara untuk si Doi waktu itu rasanya harus dihabiskan 24 jam. Terkadang ketika baru ketemu tadi siang belum beberapa menit sudah menelepon, dan jika ada telepon dari orang tua masuk malah diabaikan dengan gerutu dalam hati : "Apa sih..ayah ini resek nelpon aja, ngak tahu apa orang lagi teleponan" atau "Mama ini ganggu aja !Pasti cuma mau nasehatin aja bosen dengernya". Ketika telepon dari si-Doi harus dimatikan dan menerima telepon dari orang tua nadanya menjadi siratan emosi tertahan tidak manis seperti ketika menerima telepon dari si-Doi. Mungkin aku termasuk anak perempuan beruntung memiliki ayah super baik, super sabar dan mengerti akan diriku. Dulu ketika aku harus pergi jauh untuk kuliah ayah yang mengantarkan ku, mungkin mamak dan ayahku sudah sepakat untuk membagi tugas mengantarkan anak-nakanya kuliah karena waktu itu abang ku juga masuk kuliah bersamaan dengan ku.

Bedanya abangku mengambil studi di Jawa sedangkan aku ke Kalimantan dalam waktu bersamaan kedua orangtua ku melepas kedua anaknya untuk bersekolah. Jangan tanya soal biaya kuliah sampai saat ini aku juga berpikir keras bagaimana kedua orangtua ku bisa tegar dan sabar untuk mencari nafkah dengan posisi perekonomian yang semakin sulit. Istilah mamak ku "Kaki jadi Kepala, Kepala jadi Kaki" itulah ungkapan mamak ku ketika kami membuat dirinya kesal dan marah. Waktu itu mamak ku harus mengalah untuk tidak mengantarkan ku bandara karena mamak ku sudah pergi mengantarkan abangku ke pulau Jawa. Sampai di bandara ayah ku melihat kecemasanku karena baru kali ini aku pergi jauh dan baru kali ini aku pergi naik pesawat terbang.
"Nang..kamu itu ibarat batang ubi kayu jika dilempar saja ke tanah kamu akan hidup"
"Ngak usah kecewa kalau kami ngak bisa mengantarkan mu sampai ke Kalimantan"
"Kamu harus mengerti kondisi keluarga kita, jadi jangan sedih ya..!!"
"Gimana pun kami ingin kalian anak-anak ayah sama mamak menjadi anak yang sukses"
"Jika mau sukses ya harus berjuang lah nang...jangan nangis karena sedih"
"Nangislah karena kamu bangga bisa sekolah dan berjuang untuk masa depanmu"
Itulah nasehat ayahku ketika aku ingin menapaki kaki di perantauan jauh dari kedua orangtua. Awalnya aku berpikir wah..senang bisa jauh dari rutinitas pekerjaan rumah, ngak kena marah. Senang???awal pikiran kita aja ladies, ketika aku harus boarding pass dan hanya bisa melihat ayah dan adik ku dari kaca, sedih rasanya, dan ketika sudah dalam pesawat air mata itu pun jatuh tanpa henti. Ingin rasanya kembali namun ingat kembali kata-kata ayah ku untuk kuat berjuang.

Ayah ku dulu seorang Lurah. Gagah melihatnya ketika ayahku mengenakan seragam PDU-LURAH. Ketika aku masih duduk di bangku SD ayah sudah Lurah dan aku bangga memakai topi PDU-Lurahnya. Ayahku berjuang melawan sakit asam urat kurang lebih 25 tahun, bertambah usia bertambah juga penyakit ayahku sampai akhirnya ayah terkena stroke. Mamakku adalah wanita yang sangat tegar dalam setiap fase sakit ayahku dan ayahku juga tidak ingin lepas dari ibuku yang merawatnya. Momen lebaran kami sudah pernah lalui di rumah sakit baik itu Lebaran Idul Fitri ataupun Lebaran Haji. Ketika ayahku menghabiskan masa pensiun di rumah, ayah makin sering menelepon ku padahal waktu itu aku sudah kembali ke rumah dan bekerja di kota kelahiranku. Mungkin ladies menyangka ayahku kepoin aku ditelepon tanya kemana?dimana?dan dengan siapa??? . Bukan ayahku tidak pernah begitu. Ayahku selalu menelepon sekedar bertanya bagaimana kondisi pekerjaanku, apakah aku sudah makan atau tidak?,apakah aku pulang ke rumah untuk makan siang atau tidak?. Dan ketika ayahku ingin dibelikan sesuatu selalu memulai dengan kata "Ada uang mu inang????", ladies ingat waktu kita kecil kala kita ingin meminta dibelikan sesuatu kita akan bertanya kepada ayah kita "Ada uang ayah???", sejurus kemudian ayah kita pasti tersenyum dan langsung menanyakan "Ada, mau beli apa?". Dan kala orangtua kita sudah berumur mereka tetap memikirkan kondisi anaknya. Ayahku tidak pernah meminta halyang muluk-muluk. Sekedar mengatakan "Ayah pengen sop", "Habis pulsa ayah inang", "Pengen ayah makan sate". Dan ketika aku jawab "iya ayah nanti pulang kerja aku belikan ya". Setiap akhir jawabanku ayahku pasti akan menjawab "Terimakasih ya inang". Dan penyesalanku hidupku adalah ketika beliau berjuang kembali dalam diagnosa dokter ayahku terkena gagal ginjal dan harus cuci darah. Tubuhnya tak segagah dulu, pipinya tirus, dan merasakan makanan pun harus melalui selang NGT. Ketika kondisinya mengisyaratkan akan pergi untuk selamanya, aku malah terpacu dengan emosi. Merasa capek karena tidak tidur semalaman melihat ayah yang rewel dengan mamakku yang juga sudah lelah membuatku marah. Dan ketika aku marah ayahku tersenyum dan bilang "Jangan marahlah aku kan cuma bilang aja sakit". Sampai sekarang aku marah dengan diriku kenapa aku tidak sabar, melewatkan momen terakhir kala itu dengan amarah.

Sampai akhirnya aku ditelepon adikku untuk kembali ke rumah tanggal 14 November 2013, adikku tidak ada berkata apa-apa hanya bilang "Kakak cepat pulang disuruh mamak".Tanpa pikir panjang aku bergegas kembali, namun malam itu tidak ada bis yang bisa membawaku pulang. Alhamdulillah kakak mamakku (inang tobang) sangat mengerti kondisiku dan memutuskan untuk mengantar ku pulang. Sapai di rumah kondisi ayahku semakin serius, tubuhnya kurus tidak ada lagi lemak dan otot seluruh tubuhnya habis karena ayah tidak lagi sanggup untuk menelan makanan. Aku memeluknya dan meminta maaf. Dalam kata terbata-bata ayahku bilang  "Ayah sudah maafin nang, jadi anak yang baik, jangan cepat emosi, jaga mamak dan adik-adik ya nang". Allah SWT hanya memberikan aku waktu 2 hari 21 jam untuk melihat ayahku. 17 November 2013 kurang lebih pukul 09.15 Wib aku melihat ayahku kembali keharibaan illahi. Tak ada yang bisa kita lakukan ketika Allah SWT telah mengambil hak manusia untuk hidup. Kain hijau berlafadz "Innalillahi Wa Inna Ilahi Ro'jiun", tubuh yang sudah membujur kaku,dan akhirnya kain kafan yang menjadi baju terakhir. Mau tidak mau siap atau tidak siap kondisi itu akan menghampiri setiap kita manusia. 

Ladies jangan sia-siakan waktu yang sedikit kita ini. Bukan hal yang muluk-muluk yang diminta kedua orangtua kita. Jika kamu perantau luangkan waktu sebanyak kamu bisa untuk bertanya kabar kedua orangtuamu. Jika kamu bersama kedua orangtuamu tekan ego, dan jika terlepas emosi cepatlah meminta maaf. Luangkan waktu untuk bercerita bersama. Ketika salah satu mereka sudah tiada hanya penyesalan. Ingat Seburuk-buruknya orangtua mereka tetap orangtua kita, istilah "Mantan"  dalam hubungan keluarga adalah "Mantan Suami dan Mantan Isteri"  tidak ada "Mantan Anak, Mantan Ibu atau Mantan Ayah".

-f3.borito for Vemale.com-






Selasa, 08 November 2016

Sebuah Rasa Yang Memudar

Sadarku akan rasa yang memudar
Yang awalnya memberi kesenangan ini
Apa yang selama ini ku rasakan hilang
Firasat ini mengatakan bahwa rasa itu memudar
Risalah hati yang tak terbalas menjadi asa pilu
Intuisi hati untuk memudarkan rasa ini


     Enggan mata ini untuk tidak melihat sosokmu
     Ketika harap ini terlalu berhasrat miliki senyummu
     Apa rencana Tuhan sebenarnya akan rasaku kepadamu
     Ketika hatiku tak ingin lagi sakit untuk kedua kalinya
     Engkau tak tahu betapa sulitnya aku pupuk rasa ini
     Langkah kakimu, suaramu, dan mata mu itu..
     Alihkan seluruh jiwaku untuk bersorak sorai
     Namun sakit itu kamu torehkan kembali seperti DIA
     Andai aku berani untuk bilang "Kamu Lelaki Pengecut"


Pikiran dan hatiku mulai tidak sinkron lagi
Untaian bunga yang mekar kala hadirmu kini layu
Tak banyak yang aku inginkan darimu hanya sebuah cerita
Rangkulan komunikasi agar aku tahu harus aku apakan rasa ini
Aku menanti sebuah kata walau seburuk apapun dari mu.


fitri.borito/021116-4.11 pm